Berita gembira datang bagi kaum muslim setelah pembeli kota yang dilakukan oleh kaum Quraisy dalam jangka waktu cukup lama akhirnya dicabut. setelah disebutnya berikut dan Embargo bagi kaum muslim, maka segala sesuatu berlangsung normal seperti sedia kala. Namun kehidupan Normal itu hanya bertahan selama beberapa bulan, sampai ketika Abu Tholib jatuh sakit. penyakit yang menimpanya bertambah parah. saat itu, usianya mencapai 80 tahun lebih. kaum Quraisy merasa bahwa Abu Tholib tidak akan Sanggup Bertahan dari penyakit yang dideritanya.
Sakit Abu Thalib semakin bertambah, bahkan tinggal menunggu saat saat ajal menjemput Nabi Muhammad SAW. datang menemui Abu Thalib, dan saat itu terdapat pula Abu Jahal dan Abdullah Bin Abu Umayyah di sisi-nya. Beliau berkata, ‘’ wahai paman, Ucapkanlah Laa Ilaha Illallah, satukalimat yang dapat engkau jadikan hujjah ( argumentasi) di sisi Allah.
Abu Jahal dan Abdullah Bin Abu Umayyah menyela,’’ wahai Abu Tholib, Apakah engkau tidak senang dengan agama Abdul Muthalib?’’
Keduanya tidak berhenti mengucapkan kalimat tersebut sampai Abu Thalib mengucapkan pernyataan terakhirnya,’’ Tetaplah pada agama Abdul Muthalib.’’
Nabi Muhammad SAW. pun berkata’’ aku benar-benar akan memohon ampunan bagimu, wahai paman, selagi aku tidak dilarang melakukannya.’’
Lalu, turunlah Wahyu Kepada beliau:
ما كان للنبي والذين امنوا ان يستغفروا للمشركين ولو كانوا اولي قربى من بعد ما تبين لهم انهم اصحاب الجحيم
‘’Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam. (QS. at-Taubah [9]: 113)
Thalib wafat pada bulan Rajab ada yang mengatakan Romadhon tahun ke-10 kenabian yaitu 6 bulan setelah ,keluar dari bukit ketika boikot dan Embargo dicabut. Semasa hidupnya, Abu Tholib senantiasa menjadi pelindung, penjaga, dan benteng yang ikut menjaga dakwah Islam dari serangan orang-orang sombong dan dungu. meski demikian, ia tetap berpijak pada agama nenek moyangnya, sehingga sama sekali tidak mendapatkan keberuntungan.
Al Abbas berkata kepada nabi Muhammad SAW,’’ Engkau sangat membutuhkan pamanmu karena ia telah melindungimu, sekalipun Ia juga membuatmu marah.’’
Nabi Muhammad SAW. menjawab,’’ ia berada di neraka yang dangkal. kalau tidak karena aku, tentu ia berada di tingkatan neraka yang paling bawah.’’
Posting Komentar