Ayah Nabi Muhammad Saw. adalah Abdullah bin Syaibah atau lebih dikenal dengan Abdullah bin Abdul Muthalib (545-5701) adalah anak Abdul-Muthalib. Silsilah lengkapnya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim (Amr) bin Abdul Manaf (al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib hin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimakh bin Mudrikah (Amir) bin llyas bin Mudar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. la meninggal di perjalanan kafilah antara Makkah dan Madinah. Saat ia meninggal, Muhammad masih dalam kandungan ibunya.
Meski meninggal dalam usia muda, Abdullah bin Abdul Muthalib termasuk benang merah dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw. Karena dari benihnyalah, lahir seorang manusia paling mulia dalam sejarah umat manusia. Lahir di kota Makkah, riwayat Abdullahbin Abdul Muthalib secara keseluruhan adalah juga sejarah Abdul Muthalib, ayahandanya. Karena kelahiran Abdullah mengiringi sebuah cerita dramatik yang seakan menjadi pertanda penting dalam menentukan episode hidup nabi berikutnya. Namun, sangat disayangkan, hanya secuil siluet perjalanan hidupnya yang terekam sejarah, "Abdullah, ayah Rasulullah Saw., tidak memiliki anak lelaki atau perempuan selain Muhammad. Dan, di Madinah, ia wafat bersama paman-pamannya dalam usia muda" tutur Muhammad Fawzi Hamzah dalam mukadimah buku mininya, Abdullah Abun Nabi.
Nama lengkapnya meliputi nama Abdullah. Allah adalah kata untuk ''Allah"'dalam bahasa Arab dan bahasa Semit lainnya. Abdullah berarti "hamba Allah", "budak Allah".
Saat itu, pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur Zamzam, dikarenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Ash dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak mempunyai apa dan siapa, kecuali orang anak laki-laki, yaitu Harits. Masih ditambah lagi dengan aura homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain), yang sedang menjangkiti kabilah-kabilah besar penguasa tanah Arab. Maka, lengkaplah alasan Abdul Muthalib untuk tidak berdaya. Abdul Muthalib pun beranjak pergi dalam galau yang mendalam. Lalu, ia berdiri di hadapan Ka'bah dan bernadzar kepada Allah Swt.
Dalam sebuah hadits riwayat lbnu Sa'ad yang sanadnya marfu'sampai Abdullah bin Abbas Ra., dituturkan bahwa ketika AbdulMuthalib bin Hasyim menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang ia miliki untuk menggali Zamzam, ia pun bernadzar, "Jika akudikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali Zamzam, maka aku akan menyem- belih salah seorang dari mereka di sisi Ka'bah sebagai bentuk korban".
Seiring perjalanan zaman, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan darinadzar yang ia ucapkan. Maka, dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil, yakni Abdullah. Ketika nama Abdullah keluar dalam undian, maka orang yang ada di sekitarnya berusaha menolak. Mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih.
Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, tidak nah menyakiti siapa pun. Senyuman khas. Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab.Muatan ruhaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia seolah taman bunga di tengah gurun sanara yang tandus. Sungguh, telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, "Lebih baik, kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, dari pada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbambangkan kembali masalah ini, dan biarkan kami bertanya kepada kahin ( peramal dukun )". karena itu, semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha pembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, "Lebih baik, kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, dari pada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbambangkan kembali masalah ini, dan biarkan kami bertanya kepada kahin ( peramal dukun )".
Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini. Lalu, ia mempertimbangkan kembali sesuatu yang telah ditetapkannya. Kemudian, pembesar Quraisy mendatangi seorang kahin.
"Berapa taruhan yang kalian miliki?" tanya Kahin.
"Sepuluh ekor unta" jawab mereka.
"Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah. Jika dalam pengundian yang keluar nama Abdulah lagi, maka tambahlah sepuluh ekor unta, begitu seterusnya, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah" perintah kahin kepada mereka.
Kemudian, dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun masih selalu mengeluarkan nama Abdullah, dan Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, hingga saat jumlah unta mencapai seratus ekor maka keluarlah nama unta tersebut. Masyarakat begitu gembira hingga berlinang air mata, demi menyaksikan Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian seratus ekor unta disembelih di sisi Ka'bah sebagai ganti Abdullah.
Demikianlah sekelumit kisah dari sejarah hidup Abdullah yang sempat dijadikan korban oleh Abdul Muthalib. Seandainya Abdullah menjadi korban untuk disembelih, niscaya Nabi Muhammad Saw. vang sekarang menjadi panutan umat manusia itu tidak akan pernah lahir ke dunia. Sebab, ia adalah bapak dari Nabi Muhammad Saw.
Ketika usia Abdul Muthalib sudah hampir mencapai 70 tahun atau lebih, tatkala Abrahah mencoba menyerang Makkah dan menghancurkan Rumah Purba, saat itu umur Abdullah sudah mencapai 24 tahun, dan sudah tiba masanya untuk dikawinkan. Pilihan Abdul Muthalib jatuh kepada Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin zuhra, pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka, pergilah anak-beranak itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Abdul Muthalib dengan anaknya menemui Wahab, dan melamar putrinya. Sebagian penulis sejarah berpendapat, ia pergi menemui Uhyab, paman Aminah. Sebab, waktu itu ayahnya sudah meninggal, dan ia di bawah asuhanpamannya. Pada hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, AbdulMuthalibjuga kawin dengan Hala, putri pamannya. Dari perkawinan ini, lahirlah Hamzah, paman Nabi Muhammad Saw. yang seusia dengan beliau.
Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumahAminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin perempuan. Sesudah itu, mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abdul Muthalib. Tak seberapa lama, kemudian Abdullah pun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suriah dengan meninggalkan istri yang dalam keadaan hamil. Dalam perjalanannya itu, Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu, ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi kemudian, ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Madinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan. Sesudah itu, ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Makkah. Akan tetapi, kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannya pun pulang lebih dahulu meninan. Dan, merekalah yang menyampaikan berita sakitnva ayahnya setelah mereka sampai di Makkah.
Begitu berita sampai ke Abdul Muthalib, ia mengutus Harist--anaknya yang sulung--ke madinah supaya membawa kembali bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Madinah, ia mengetahui bahwa abdullah sudah meninggal dan sudah di kuburkan pula, sebulan sesudah kafilahnya berangkat ke Makkah. maka kembalilah Harist kepada keluarganya dengan membawa perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul Muthalib, juga Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga Abdul Muthalib, ia sangat sayang kepadanya sehingga penembusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.
Abdullah bukanlah orang kaya. la dan istrinya hidup dalam keluarga sederhana. Oleh karena itu, sewaktu meninggal, ia hanya mewariskan sedikit harta. Adapun warisan atau peninggalan Abdullah itu terdiri atas lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan, yaitu Umm Aiman, yang kemudia menjadi pengasuh Nabi Muhammad Saw. Boleh jadi, peninggala serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan; tapi tidak Juga merupakan suatu kemiskinan. Selain itu, umur Abdullah yang masih dalam usia muda beliu sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Ia memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup.
Meski meninggal dalam usia muda, Abdullah bin Abdul Muthalib adalah termasuk benang merah dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw. Karena dari benihnyalah, lahir seorang manusia paling mulia dalam sejarah umat manusia. Lahir di kota Makkah, riwayat Abdullah bin Abdul Muthalib secara keseluruhan adalah juga sejarah Abdul Muthalib, ayahandanya. Sebab, kelahiran Abdullah mengiringi sebuah cerita dramatik yang seakan menjadi pertanda penting dalam menentukan episode hidup Nabi Muhammad Saw.

إرسال تعليق