Siapakah Siti Khadijah? Bagaimana Nabi Muhammad Saw menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Siti Khodijah? Dan berapakah putra-putri beliau dari pernikahannya dengan Siti Khodijah?
jawabannya akan Anda ketahui dalam poin-poin
berikut:
sempat di singgung sebelumnya Siti Khadijah adalah seorang Usahawan sukses, kaya, dan
janda. Ia adalah seorang wanita sempurna meskipun tergolong orang yang kaya,
namun , baginya kekayaan hanya sebuah hiasan dunia semata bukan segala-galanya
walaupun ia adalah seorang pengusaha wanita ternama bukan berarti hidupnya
diperuntukkan bagi dunia saja, melainkan juga agama. Ia sangat patuh dan taat
terhadap ajaran agama nenek moyangnya.
Siti Khodijah dilahirkan pada tahun 68 sebelum hijrah atau 15 tahun sebelum tahun
gajah . Ia adalah putri jelita bangsawan Quraisy yang memiliki keturunan
terhormat yaitu keturunan suku Quraisy asadiyah. Ia adalah wanita sempurna yang
memiliki keturunan yang baik, ketinggian akhlak, dan kekayaan materi. Ia merupakan
wanita istimewa yang menyandang gelar wanita surge. Yang terpenting, ia adalah
istri pertama Nabi Muhammad Saw.
Siti Khadijah mempunyai nama lengkap Khadijah binti khuwailid bin Asad bin Abdul uzza Bin Qushay. Khodijah Al Kubro anak perempuan dari Khalid Bin Asad dan Fatimah binti Za’idah
berasal dari kabilah bani Asad dari suku Quraisy. Ia memiliki nasib yang suci
luhur dan mulia laksana untaian mutiara yang berkilauan.
Ayah Siti Khadijah, Khalid Bin Asad, adalah tokoh Pembesar Quraisy yang terkenal Hartawan dan dermawan. Khuwailid sangat mencintai anggota keluarga dan kaumnya, menghormati tamu, dan suka memberdayakan serta membantu kaum miskin dan kaum papa. Ia termasuk sahabat Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Ayah Siti Khadijah ini juga merupakan salah seorang delegasi Quraisy yang diutus ke Yaman untuk memberi ucapan selamat kepada rajanya yang ber bangsa Arab, yaitu Saifudin Dzi Yazin , atas keberhasilannya mengusir pasukan abessinia dari negerinya. peristiwa ini terjadi 2 tahun sesudah peristiwa penyerangan Mekkah pada tahun gajah.
Sementara itu, Ibu dari Siti Khadijah Bernama Fatimah binti Zaidah titik silsilah nasab
nya berujung pada Amir Bin lu’ay. Neneknya adalah Halah binti Abdul mana yang
tersambung sampai Lu Bin Walid. masing-masing silsilah Ayahanda dan
ibundanya berasal dari keturunan Quraisy yang terhormat dan mulia. Nasab Siti
Khadijah dari pihak Ayahanda berhimpun dengan nasab Nabi Muhammad SAW. pada
kakeknya yang ke-4 kusai bin kilab bin kilab adalah pemimpin Quraisy yang
berhasil merebut kekuasaan Kota Mekah dari tangan kaum khuza'ah pada abad ke-5
M yang telah lama menguasai kota ini selama berabad-abad. Setelah itu aku
sampai menjadi pemimpin agama dan pemerintahan kota Mekkah, yang kemudian diteruskan
oleh keturunannya.
Adapun nasab Siti Khodijah dari pihak ibundanya berhimpun dengan nasab Nabi Muhammad
SAW. pada kakeknya yang ke-tiga, Abdul Manaf. Dengan demikian, dari pihak Ayah
maupun Ibu Khadijah dan Nabi Muhammad SAW memiliki kekerabatan yang sangat dekat.
dan, Ia merupakan istri Nabi Muhammad SAW yang paling dekat nasabnya dengan
beliau berbanding istri yang lain.
Siti Khodijah bisa dipanggil dengan nama Ummu Hindun dan mendapat gelaran Ath-Thhirah
(wanita suci) Atau Ummul Mukminin (ibunya orang-orang Mukmin) gelaran ath-Thahirah
diperoleh sebelum kedatangan Islam karena kesucian budi pekertinya,
kedudukannya yang mulia di tengah-tengah kaumnya, dan kesucian dirinya dari
noda paganisme kepercayaan spiritual pada zaman Jahiliyah. Khodijah juga
diberikan Ummul mukminin (ibunya orang-orang Mukmin) karena ia adalah
sebaik-baik istri teladan yang baik bagi insan yang mengikutinya. Ia
telah menyediakan rumah yang nyaman dan tentram bagi nabi Muhammad SAW sebelum
Baginda diutus sebagai seorang Rasul.
Pada tahun 575 M, Siti Khodijah ditinggal ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya
khuwailid, menyusul. sepeninggal kedua orang tuanya, Siti Khodijah dan
saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. kekayaan warisan menyimpan bahaya . Ia
bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya.
bahaya ini sangat disadari oleh Siti Khodijah. Ia pun memutuskan untuk tidak
menjadikan dirinya pengangguran titik kecerdasan dan kekuatan Sikap yang
dimiliki Siti Khodijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, ia mengambil
alih bisnis keluarganya.
Kapankah Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khodijah?
Mengutip dari majalah Alkisah.com, Berikut saya cuplikan kisah pernikahan kedua insan
manusia pilihan ini. sebelumnya, perlu diketahui, Siti Khadijah adalah seorang
janda yang pernah menikah dua kali. suami pertamanya bernama Atiq bin Aidz
at-Tamimi.Setelah wafatnya sang suami, Ia menikah dengan Abu Halah Hindun bin
jarrah At-Tamimi. Dari kedua pernikahannya ini, Siti Khadijah memiliki anak,
Namun sayang yang anak-anaknya tidak berumur panjang.
Awal perjumpaan Siti Khodijah dengan Pemuda Muhammad tidak terlepas dari peran
beberapa orang yang menyambungkan kisah kasih keduanya. dalam buku berjudul
Hayatun Muhammad, karya pujangga Mesir kenamaan, Muhammad Husain Haikal
dikisahkan bahwa Abu Tholib adalah paman yang sangat menyayangi Muhammad. Ia
menjaga dan merawatnya penuh kasih sayang, seperti kasihnya kepada
putra-putrinya yang lain. akan tetapi, menyulitkan Abu Tholib dalam
memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga titik untuk membantu penumpang keadaan
ekonomi, Abu Tholib menawarkan Muhammad untuk bekerja kepada Siti Khadijah
binti khuwailid yang memiliki usaha cukup sukses dan maju titik apalagi, ia
sangat tahu, kemenakannya adalah seorang pemuda yang cekatan jujur dan bekerja
keras.
‘’ Anakku, Aku bukan seorang yang berada titik keadaan makin menekan kita titik
aku dengar, Khodijah binti khuwailid mengubah orang dengan 2 ekor anak unta
untuk menjualkan barang dagangannya. Maukah kau ku ajukan kepadanya sebagai
karyawannya? Tentunya, aku akan meminta lebih dari itu, karena mereka pun tahu
siapa Engkau, Putraku...,’’
‘’Terserah paman. saya ikuti saja,’’ Jawab Muhammad.
Maka, Abu Tholib pun mendatangi Siti Khodijah titik ia tawarkan keponakannya untuk
diperbantukan di usaha Siti Khodijah. Namun ia meminta lebih sebagai upahnya.
sebab, Muhammad sudah cukup dikenal oleh Siti Khodijah sebagai pemuda yang
rajin dan jujur.
‘’
bahkan, kalau permintaanmu itu buat orang jauh dan tidak kusukai aku
mengupahnya,’’ jawab Siti Khodijah. kepada Abu Tholib, yang sudah sangat
mengenal reputasi Abu Tholib.
Gayung pun bersambut betapa sukacitanya Abu Thalib dengan kabar ini sehingga ia segera
pulang untuk mengabarkannya kepada kemenakannya itu.
‘’ Wahai Muhammad, ini adalah rezeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu.’’ kata
pamannya penuh kegirangan titik terbayang olehnya, beban ekonomi keluarga akan
sedikit ringan, berkat diterimanya Muhammad bekerja kepada Siti Khodijah.
Muhammad juga menerima dengan senang hati.
Singkat cerita, Muhammad pun menjadi tenaga penjual pisang dan sekeliling Makkah bagi
usaha Siti Khodijah, yang disukai pembeli dan tentunya sangat punya dagangan
Siti Khodijah. dengan kejujuran dan kemampuannya, ternyata Muhammad mampu
memperdagangkan barang-barang Siti Khodijah dengan lebih banyak keuntungan
daripada yang dilakukan orang sebelumnya. sifatnya yang bijak, tutur kata yang
manis dan pembawaannya yang penuh kesan, segera menarik sikap penghormatan dan
kekaguman Maisarah dalam kafilah dagang. setelah itu sejumlah keajaiban
spiritual yang disaksikan Maisaroh Selama perjalanan ke Syam juga diceritakan
kepada Siti Khodijah titik diantara keajaiban spiritual tersebut adalah
pernyataan seorang rahib bernama buhaira’ tentang tanda-tanda kenabian pada
dirii Muhammad, yang sangat cocok dan tepat dengan nubuat yang terdapat
di Taurat dan Injil. keajaiban lainnya adalah perjalanan mereka berdua,
Muhammad dan Maisaroh, yang jaraknya jauh tapi menjadi terasa dekat. juga,
adanya awan yang berjalan menaungi perjalanan mereka dari terik matahari.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Siti Khodijah berubah menjadi rasa cinta.
sehingga ia, yang sudah berkepala empat, dan sebelum itu selalu menolak lamaran
pemuka pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy, jatuh cinta kepada Muhammad.
ketika Siti Khodijah dirundung musibah, sang ayah tercinta meninggal dunia waraqah bin
Naufal anak Paman Datang melipur Lara nya. seorang yang alim, menjelaskan bahwa
dunia ini bukan akhir segalanya, dan akan ada Hari Berbangkit ketika Allah
memberikan pahala atau hukuman menurut amal masing-masing umat. dan, ayah
Khodijah, menurut waroqoh termasuk orang yang beruntung, sebab ia orang
baik-baik.
‘’Kenapa kau tidak sampaikan hal ini kepada orang-orang, agar mereka tidak lagi menyembah berhala-berhala dan hanya berharap kepada Allah? ‘’ kata Siti Khodijah setelah merasa terhibur.
‘’ ini bukan tugasku. Seorang nabi akhir zaman sudah waktunya muncul, sebagaimana
yang ditunjukkan kitab-kitab suci yang kami baca titik dialah yang kelak akan
menyampaikan petunjuk ini,’’ kata waraqah.
Sayyidah
Khodijah lalu teringat pada cerita Maisaroh tentang Nabi Muhammad SAW dan
menceritakannya kembali kepada waroqoh.
‘’ jika ini memang benar kau mau Khadijah, Muhammad adalah nabi umat ini, waraqah
meyakinkan.
Sayyidah Khadijah pun merasa tenang titik dalam hatinya, muncul sebuah harapan yang
tidak bisa dibendung. Ya, cintanya kepada Muhammad sosok yang pintar,
rajin, dan sholeh. Hadijah pun mencurahkan isi hatinya ini kepada seorang
saudaranya menurut riwayat yang lain sahabatnya, yang bernama Nufaisah binti
Mun yah. curahan hati itu pun disampaikan oleh Nufaisah kepada Muhammad.
Nufaisah berkata,’’Mengapa kau belum menikah?’’
Muhammad menjawab,’’Aku tidak punya apa-apa untuk bekal persiapan menikah.’’
‘’
Kalau itu disediakan, dan yang mau melamarmu seorang wanita yang cantik,
berharta, terhormat, dan memenuhi syarat, tidakkahkau terima?”
‘’Siapa dia?’’
‘’Khadijah.”
Muhammad tergamam dan serba salah. orang yang ingin menikahinya adalah majikan.
‘’Dengan cara bagaimana?”Muhammad menghela napas.
Sebenarnya, Muhammad berkenan pada Khodijah meskipun hati kecilnya belum memikirkan
pernikahan titik apalagi, jika mengingat bahwa lamaran para pembesar saja
ditolak oleh Siti Khodijah sedangkan, Ia hanya Pemuda sederhana.
Tak lama kemudian, Siti Khodijah membicarakan niatnya itu kepada paman-pamannya,
karena ayahnya sudah tiada, termasuk menentukan waktu bagi keluarga besarnya
untuk dapat menghadiri pernikahan paling indah ini titik di sisi lain Muhammad
pun mengutarakan berita ini kepada sanak keluarganya, terutama paman-pamannya,
dan mendapat dukungan.
Tatkala pernikahan akan dilangsungkan, Muhammad diiringi oleh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, yang memenangkan Siti Khodijah bagi beliau titik sedangkan, pamannya
yang lain, Abu Thalib kemah menyampaikan khutbah pinangan titik dalam khotbahnya
Abu Thalib berkata,’’ sesungguhnya, Muhammad Putraku ini, tidak bisa
ditimbang-timbang dengan seorang pemuda Quraisy manapun titik namun, yang nyata
pada dirinya adalah bahwa ia seorang pemuda yang mulia, utama dan cerdas. jika
tentang harta ia tak punya apa-apa titik karena harta adalah payung bagi orang
yang cepat lenyap (maksudnya bakal mati) dan aib yang bakal kembali (ke sisi
Tuhan). Namun, ia punya rasa suka kepada Siti Khodijah sebagaimana Khodijah
juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.’’
Amir bin Asad, Wali dari Siti Khodijah, menjawab dengan syair yang singkat ‘’hewan jantan tak akan lari hidungnya.’’
Maksud syair ini, orang yang memiliki kemuliaan, seperti dia dan keluarga besar Siti
Khodijah tak akan lari dari pinangan keluarga Muhammad.
Acara ramah tamah yang serba singkat dan Sederhana itu pun Kemudian dilanjutkan
dengan akad nikah. pernikahan Siti Khodijah dengan Muhammad dihadiri oleh
Paman Siti Khodijah Amir bin Asad selaku wakil keluarga yang menjadi wali dalam
pernikahan itu titik dan, keluarga Muhammad, diantaranya paman-pamannya,
seperti Hamzah Abu Thalib, dan lain-lain.
Dengan 20 ekor unta muda sebagai mas kawin, Muhammad melangsungkan pernikahannya
dengan Siti Khodijah titik acara walimah pun digelar, makanan dihidangkan pintu
rumah Siti Khodijah dibuka lebar-lebar untuk menjamu kerabat, sahabat, dan
fakir miskin.
pembesar-pembesar suku turut hadir mengucapkan
selamat.
Pernikahan ini dilangsungkan setelah 2 bulan 15 hari sepulang Muhammad dari syantik Siti
Khadijah pada saat itu berusia 40 tahun. sedangkan, Muhammad berusia 25 tahun.
setelah pernikahan itu, Muhammad pun turut serta menempati kediaman Siti
Khodijah sebagai pasangan yang memulai babak baru kehidupan sebagai sepasang
suami istri.
Muhammad bukanlah seperti anak muda kebanyakan titik ia tidak mengenal nafsu muda yang
tak terkendalikan, juga tidak mengenal cinta buta seperti nyala api yang
bergelora untuk kemudian padam.
Muhammad Said Ramadhan Al buthi, dalam kitabnya fiqh as-sirah, mengutarakan, kisah
pernikahan Muhammad dengan Siti Khodijah adalah sebuah kisah cinta yang sempurna.
umumnya, seorang lelaki muda yang baru berumah tangga punya hasrat kepada
kepuasan seksual kenikmatan ragawi bersenang-senang dengan si istri.Namun,
Muhammad bukan tipe semacam itu. kesenangannya kepada Siti Khodijah lebih dari
itu. kecintaannya melebihi hasrat jasmani yang bergelora sebagai lelaki muda.
maka, cukuplah tersingkap bagi kita, umatnya yang menaruh perhatian pada kisah
kasih beliau, bahwa kesenangan yang didapatinya dari Siti Khodijah lantaran
kelembutannya, kemuliaan-nya, dan keagungannya di kalangan masyarakat yang
membuat Siti Khodijah dijuluki masyarakat sebagai ‘’wanita matang yang memiliki
kehormatan diri dan kesucian’’.
Hubungan suami istri ini berlangsung penuh kehangatan hingga Siti Khodijah wafat. ia
wafat pada usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-10 kenabian, atau 3
tahun sebelum hijrah ke Madinah, Atau 619 Masehi. ketika itu, usia Nabi
Muhammad SAW titik sekitar 50 tahun. Siti Khodijah dimakamkan di dataran tinggi
Mekkah yang dikenal dengan sebutan alhajju titik berat tahun yang sama dan
hanya berselang 3 hari dari berpulangnya Siti Khodijah, Paman Nabi Muhammad
Saw, Abu Tholib juga meninggal dunia dalam usia 86 tahun.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib sangat menusuk jiwa Nabi
Muhammad SAW. alangkah sedih dan Pedihnya perasaan beliau ketika itu. karena 2
orang yang dicintainya (Siti Khadijah dan Abu Tholib) telah wafat, maka tahun
itu disebut sebagai ‘Amul huzni’ (tahun kesedihan) Dalam kehidupan Nabi
Muhammad SAW dalam kesedihannya, Beliau berkata,’’ pada hari-hari ini telah
terjadi dua musibah besar menimpa diriku, Aku tidak tahu mana diantara keduanya
yang lebih hebat.’’
#Abdurrahman bin Abdul karim kitab sejarah Nabi Muhammad SAW.2005
إرسال تعليق